Art / Autocar / Food / Humaniora / Indonesi / Japan / Life / Photography / Thoughts / Traveling

Two years ago, i’d declared to not continuing Japanese pop-art hobbies (Animanga, games, modelkits, etc,.). But today, i have bought Final Fantasy Play Arts mini-figure, featuring Lightning (Final Fantasy XIII), one of my favourite heroine character.

Two years ago, i’d declared to not continuing Japanese pop-art hobbies (Animanga, games, modelkits, etc,.). But today, i have bought Final Fantasy Play Arts mini-figure, featuring Lightning (Final Fantasy XIII), one of my favourite heroine character.

taylorswift:

Taylor was just named the 2014 Billboard Woman of the Year! Read all about it: http://smarturl.it/TSBillboardWOTY
- Taylor Nation

She deserved for this.

taylorswift:

Taylor was just named the 2014 Billboard Woman of the Year! Read all about it: http://smarturl.it/TSBillboardWOTY

- Taylor Nation

She deserved for this.

kumako365jp:

Yesterday, I lost my purse somewhere after I ate my udon lunch of my previous post. It seems the purse just slipped off when I thought I put it in my bag. It’s my handmade, almost coin purse sized small thing. However, as I was going to pay some bills on the way, I had as much as 40,000yen cash in it. It’s kinda big money for me.
I was totally at a loss when I found my purse wasn’t in my bag and anywhere else. I didn’t have any valuables such as my driver’s license or credit cards in the purse. But the loss of cash was a shock to me.
Later that day, though, I got a call from a police station and was told they have my purse there. Someone found and picked it up, and went to the nearby police box on his way home. It’s a law that he could get 20% of the cash as a reward, but he said he wouldn’t accept the money but instead he asked the policeman to find the purse owner and return it as soon as possible. That’s the story the policeman told me. Only I could know about the person is that he is a middle-aged man who’s probably lives near that police box.
The policeman said he would call and tell him later that the purse was safely returned to me, and that I was so so grateful about it. It’s also a law that I cannot get the man’s personal information even just to say thank-you.
So, all my money and shop cards are back to me now. 
Actually, this is not that surprising story in Japan, but these days, moral degeneration has been a big problem among us, so I’m simply happy my purse and cash is back to me within the day. Japanese society still isn’t as bad as it seems;)

kumako365jp:

Yesterday, I lost my purse somewhere after I ate my udon lunch of my previous post. It seems the purse just slipped off when I thought I put it in my bag. It’s my handmade, almost coin purse sized small thing. However, as I was going to pay some bills on the way, I had as much as 40,000yen cash in it. It’s kinda big money for me.

I was totally at a loss when I found my purse wasn’t in my bag and anywhere else. I didn’t have any valuables such as my driver’s license or credit cards in the purse. But the loss of cash was a shock to me.

Later that day, though, I got a call from a police station and was told they have my purse there. Someone found and picked it up, and went to the nearby police box on his way home. It’s a law that he could get 20% of the cash as a reward, but he said he wouldn’t accept the money but instead he asked the policeman to find the purse owner and return it as soon as possible. That’s the story the policeman told me. Only I could know about the person is that he is a middle-aged man who’s probably lives near that police box.

The policeman said he would call and tell him later that the purse was safely returned to me, and that I was so so grateful about it. It’s also a law that I cannot get the man’s personal information even just to say thank-you.

So, all my money and shop cards are back to me now. 

Actually, this is not that surprising story in Japan, but these days, moral degeneration has been a big problem among us, so I’m simply happy my purse and cash is back to me within the day. Japanese society still isn’t as bad as it seems;)

THE LACK OF PERFECTION

Manusia itu, katanya, diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang tidak mengenal rasa puas, selalu mencari kesempurnaan dalam setiap usahanya, entah usaha yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan materi atau kebutuhan jiwanya.
Oleh karena itu, sudah menjadi hal yang umum apabila kita, sebagai manusia, melihat manusia lain menunjukkan perasaan kecewa, marah, sedih, menyesal, dan frustrasi, apabila mereka tidak menemukan kepuasan atau apa yang mereka sebut sebagai “kesuksesan” dari usaha dan perjalanannya.
Tapi, pernahkah kita berpikir untuk sesaat saja, bahwa ajaran moral, humanisme, agama, ilmu kejiwaan, dan ilmu sosial, mengajarkan agar manusia bisa menerima ketidaksempurnaan dalam hidupnya, termasuk dirinya sendiri yang memang tidak akan pernah mencapai kesempurnaan?
Meskipun tidak semua manusia bisa melihatnya, sesungguhnya selalu ada arti besar dan rahasia masa depan di balik ketidakpuasan kita terhadap segala sesuatu yang tidak sempurna.
Ada laki-laki yang memiliki istri yang rupanya tidak cantik dan menawan, tapi dibalik penampilannya yang biasa saja, istrinya adalah wanita yang bisa memberinya dorongan moril agar ia selalu berusaha keras dan kreatif dalam bekerja.
Ada seorang wanita yang memiliki teman yang tidak secerdas, sekaya, atau setenar dirinya, namun salah satu temannya itu adalah teman yang selalu ada di sisinya kapanpun ia membutuhkan bantuan dan bersedia memberikan bantuan apapun selama ia berada dalam kesulitan.
Dua contoh diatas, hanyalah contoh-contoh sederhana dari arti di balik ketidaksempurnaan seseorang atau sesuatu, yang sering kali kita pandang remeh atau tidak kita anggap sebagai sebuah karunia.
Ada banyak sekali ketidaksempurnaan dalam hidup kita. Sekalipun kita berusaha untuk menjadi sempurna seperti harapan manusia lain pada kita, kita tidak akan bisa sesempurna yang mereka harapkan atau selamanya tampak sempurna di hadapan mereka. Kalau pun kita bisa, itu hanya akan membuat kita menjadi lelah sendiri, karena kita tidak bisa menjadi diri kita sendiri.
Mencari kesempurnaan atau kepuasan total adalah hakikat manusia sebagai makhluk yang tidak pernah memiliki rasa puas, tapi layakkah kita melepaskan kemanusiaan dan jati diri kita hanya untuk mengejar kesempurnaan dalam kehidupan duniawi yang tidak pernah berjalan sepenuhnya sesuai dengan harapan-harapan yang kita bangun selama ini?

KULTUS EGOISME

 

Di sebuah sekolah menengah setelah jam pelajaran berakhir, seorang murid yang terkenal paling tidak menonjol di kelasnya namun cerdas, datang menghampiri guru Ilmu Sosial-nya secara pribadi di taman sekolah yang sudah sepi ditinggalkan oleh murid dan penjaga sekolah.
“Ibu guru, apa Ibu sadar kalau Ibu digosipin teman-temanku gara-gara Ibu bicara yang aneh-aneh?” Ibu guru mengerenyitkan dahi, memikirkan apa maksud dari pertanyaan muridnya itu.
“Digosipin seperti apa, nak?”
“Kata mereka, Ibu orangnya aneh dan picik. Masa’ semua orang Ibu bilang egois, sih,” jawab si murid dengan ekspresi tidak senang pada ibu gurunya, meski sebetulnya si murid itu juga tidak bisa membenci atau menyalahkan sepenuhnya ucapan ibu burunya. Sang Ibu guru tersenyum sumringah dan menghela nafas sesaat sebelum menjawab kebingungan murid yang diam-diam paling ia perhatikan dari semua murid di sekolahnya.
“Anak didikku yang baik, sebelum Ibu menjawab pertanyaanmu, Ibu boleh bertanya?”
“I… iya, Bu guru.”
“Apa kamu pernah memberikan contekan ke temanmu waktu tes?” Pertanyaan itu tentu saja membuat si murid merasa canggung, karena ia diberi pertanyaan yang menyinggung kesalahan yang pernah dibuatnya sewaktu tes akhir semester.
“Pernah, Bu.” Si murid menjawab dengan malu-malu.
“Oke. Tenang saja, Ibu rahasiakan pengakuanmu. Lalu, apa kamu pernah mencontek… atau setidaknya mencoba mencontek temanmu?” Lagi-lagi si murid dikorek dosanya oleh sang guru, tapi si murid yang berkarakter lugu dan jujur ini mengakui dosanya.
“Per… pernah, Bu.”
“Apakah temanmu membantumu memberikan contekan?” Sang guru sepertinya sudah bisa melihat jawabannya dari si murid yang kali ini menunjukkan ekspresi menyimpan kemarahan yang sudah lama dia simpan.
“Eng… enggak, Bu. Kalau aku yang butuh contekan, aku malah diabaikan gitu aja sama temanku, malah aku pernah dituduh nyontek sampai diadukan ke guru yang lain, aku enggak suka sama sikap temanku yang begitu… ,” sang guru teringat oleh komentar rekan kerjanya yang menceritakan anak ini pernah ketahuan mencontek di kelas. Pada saat itu sebetulnya dia sudah menduga, anak ini hanya menjadi korban fitnah dari temannya sendiri, dan ternyata memang sesuai dengan dugaannya, anak ini hanya menjadi korban dari kenakalan dan keegoisan teman sekelasnya sendiri.
“Menurutmu, kelakuan temannmu yang jahat seperti itu, egois, enggak?” Si murid akhirnya baru mengerti apa maksud dari wejangan gurunya waktu jam pelajaran Ilmu Sosial tadi, ia baru sadar bahwa pengalamannya pada saat mencontek dan dicontek teman itu adalah wujud dari perilaku egois manusia yang diajarkan oleh sang guru.
“Egois, Bu… ”
“Nak, kamu baru saja memahami salah satu kejelekan sifat manusia, yaitu sifat egois. Benar, bukan?” Sang murid tidak lagi mendebat atau mempermasalahkan ucapan gurunya. Sebaliknya, kini ia sudah memperoleh satu pelajaran terpenting dalam hidupnya, yaitu perilaku egois dalam diri manusia, yang sudah bisa ia saksikan sendiri dalam realitas hidup.
“Tapi, Bu… aku enggak suka manusia egois. Kalau aku ketemu lagi sama orang yang kaya’ gitu, aku harus gimana?”
“Nak, itulah bagian dari perjuangan hidup kita sebagai manusia. Kamu harus selalu siap dan kuat menghadapi orang-orang seperti itu…. tapi jangan sampai kamu menjadi seperti mereka. Tetaplah berusaha menjadi manusia yang murah hati dan menjaga rasa percaya satu sama lain sebagai teman, ya.” Saat ini, si murid mungkin merasa bingung, belum bisa memahami arti dari ucapan terakhir sang guru, tapi ketika ia beranjak dewasa nanti, ia pasti akan memahami arti dari ucapan ibu gurunya.

KETIKA BUMI YANG DIPIJAK ITU BURUK, HARUSKAH TETAP DIJUNJUNG

Ada satu pepatah yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari

Dan tampak mudah untuk dianut oleh semua manusia

Pepatah itu berbunyi

Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung

Itu pepatah yang tidak sulit untuk dipahami sebagian besar orang

Hanya bermakna bahwa dimanapun kita berada

Sudah menjadi kewajiban kita untuk mengikuti adat-istiadat, budaya, tata krama, nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat tempat kita berada

Pepatah itu seolah menjadi kalimat sakti

Agar siapapun bisa berdamai dengan lingkungan hidup masyarakat

Tak peduli seperti apa peradaban masyarakat yang dihadapi

 

Akan tetapi

Selalu ada manusia-manusia yang tidak dapat beradaptasi atau memilih untuk tidak mengikuti kultur masyarakat di tempat mereka hidup

Bagi sebagian besar manusia yang berpikir konvensional

Mungkin manusia seperti ini adalah manusia-manusia yang harus didisiplinkan, diberi pelajaran, dibina, atau bahkan dipaksa agar bersikap dan berkata-kata seperti manusia di sekitarnya sesuai dengan kultur yang berlaku

Pendapat itu tidaklah salah

Masalahnya adalah

Tidak ada kultur masyarakat yang sempurna di belahan dunia bagian manapun

Akan selalu ada ketidakbenaran dan kesesatan dalam kultur masyarakat

Tidak ada, atau mungkin hanya sedikit yang tahu

Bahwa manusia-manusia yang menolak untuk berasimilasi dengan kultur itu

Menjadi kritikus yang menunjukkan kesalahan dan kesesatan dari sebuah kultur masyarakat di tempat ia berada

 

Kemampuan visual manusia dalam melihat benda itu amat terbatas

Sebagaimana kemampuan manusia dalam berpikir terhadap lingkungan hidup beserta kultur yang dianut oleh masyarakat di sekitarnya

Manusia yang memiliki kepekaan dan kemampuan berpikir itulah yang sering kali memiliki kelebihan dalam melihat kesalahan dan kekurangan sebuah kultur masyarakat

Yang sayangnya sering kali pula, hanya diacuhkan oleh sebagian besar manusia

 

Tak ada kebenaran yang akhirnya menjadi realita

Kesalahan bisa menjadi kebenaran

Apabila kesalahan itu sudah diyakini benar oleh masyarakat sebuah peradaban

Termasuk kultur masyarakat di tempat kita berada.

Lumia 735 Advertise

Angkringan Dishes #culinary #culture #food #foodies #foodtravel #indonesia #indonesianculture #Jogja #jogjakarta #traveling #yogya #yogyakarta #yogyes

Angkringan Dishes #culinary #culture #food #foodies #foodtravel #indonesia #indonesianculture #Jogja #jogjakarta #traveling #yogya #yogyakarta #yogyes

Kelak, aku pasti akan kembali ke kota ini. Sampai jumpa kembali Yogyakarta yg kucinta. at Lapangan GSP UGM – View on Path.

Kelak, aku pasti akan kembali ke kota ini. Sampai jumpa kembali Yogyakarta yg kucinta. at Lapangan GSP UGM – View on Path.

SEJUJURNYA, SAYA BENCI JAKARTA

Enam bulan aku bekerja dan tinggal di Semarang, dan tetap menjadi lebih dekat dengan Yogyakarta. Aku bahagia dan mendapat kenangan berharga di Semarang dan mulai menyukainya walau cintaku tetap untuk Yogyakarta.
Tapi satu minggu yang lalu mengubah kehidupanku di Semarang. Aku mendapat surat perintah untuk pindah bekerja ke Jakarta.
Ya, Jakarta. Kota metropolitan yang sejak dulu tak pernah kurahapkan untuk menjadi tempat tinggalku dan tempat untuk bekerja.
Kota tempat berkumpulnya para birokrat, kapitalis multinasional, fundamentalis agama, dan kaum borjuis, yang menghimpun modal, kekuasaan dan pengaruh ke daerah-daerah lain. Menjadikan daerah lain di negeri ini hanya sebagai perpanjangan tangan bisnis atau tempat permainan mereka.
Kota dimana segala aspek kehidupan diukur dengan Rupiah. Mau tak mau, suka tak suka, semua manusia yang hidup di kota ini akan dimotivasi untuk membelanjakan hasil pekerjaan mereka untuk membeli sesuatu yang sesungguhnya tidak sangat mereka butuhkan. Harga diri seseorang tidak lagi diukur dari kemanusiaan dan kepribadian sejatinya, tapi dari merek busana yang dikenakan, kemewahan mobil yang dikendarai, rumah yang ditempat tinggali, dan gemerlapnya tempat tongkrongan yang disinggahi bersama teman-teman. Kita menikmati apa yang dibuat oleh orang-orang tidak berpunya dengan membayar harga mahal, tanpa kita sadari. Kita hidup dalam kemewahan yang dibangun dari sumber daya alam milik daerah di Tanah Jawa lain bahkan pulau lain yang ada di penjuru Nusantara ini. Dan, kita hidup dalam keteraturan berbungkus kebebasan palsu dan kesuksesan semu. Pagi berangkat bekerja dalam kemacetan, rutin mengerjakan sesuatu yang sesungguhnya bukan tujuan hidup kita, dan berusaha menahan diri dari serbuan bujuk rayu pemilik modal untuk membelanjakan uang hingga tak pernah memiliki tabungan dan masa depan yang sesuai dengan isi hati kita sendiri.
Di kota ini, tak ada lagi batas antara budaya lokal dan budaya luar. Mau tak mau, suka tak suka, kita hidup dalam arus budaya Barat dan budaya Arab, atau budaya asing lainnya yang membuat kita lupa akan budaya kita sendiri, kita hidup hanya tinggal menerima dan mengikuti arus budaya yang ada. Menjadi manusia-manusia yang hidup tanpa jati diri sendiri.
Apakah ini yang disebut kehidupan?
Sejujurnya, saya benci Jakarta.