Art / Autocar / Food / Humaniora / Indonesi / Japan / Life / Photography / Thoughts / Traveling

KETIKA BUMI YANG DIPIJAK ITU BURUK, HARUSKAH TETAP DIJUNJUNG

Ada satu pepatah yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari

Dan tampak mudah untuk dianut oleh semua manusia

Pepatah itu berbunyi

Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung

Itu pepatah yang tidak sulit untuk dipahami sebagian besar orang

Hanya bermakna bahwa dimanapun kita berada

Sudah menjadi kewajiban kita untuk mengikuti adat-istiadat, budaya, tata krama, nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat tempat kita berada

Pepatah itu seolah menjadi kalimat sakti

Agar siapapun bisa berdamai dengan lingkungan hidup masyarakat

Tak peduli seperti apa peradaban masyarakat yang dihadapi

 

Akan tetapi

Selalu ada manusia-manusia yang tidak dapat beradaptasi atau memilih untuk tidak mengikuti kultur masyarakat di tempat mereka hidup

Bagi sebagian besar manusia yang berpikir konvensional

Mungkin manusia seperti ini adalah manusia-manusia yang harus didisiplinkan, diberi pelajaran, dibina, atau bahkan dipaksa agar bersikap dan berkata-kata seperti manusia di sekitarnya sesuai dengan kultur yang berlaku

Pendapat itu tidaklah salah

Masalahnya adalah

Tidak ada kultur masyarakat yang sempurna di belahan dunia bagian manapun

Akan selalu ada ketidakbenaran dan kesesatan dalam kultur masyarakat

Tidak ada, atau mungkin hanya sedikit yang tahu

Bahwa manusia-manusia yang menolak untuk berasimilasi dengan kultur itu

Menjadi kritikus yang menunjukkan kesalahan dan kesesatan dari sebuah kultur masyarakat di tempat ia berada

 

Kemampuan visual manusia dalam melihat benda itu amat terbatas

Sebagaimana kemampuan manusia dalam berpikir terhadap lingkungan hidup beserta kultur yang dianut oleh masyarakat di sekitarnya

Manusia yang memiliki kepekaan dan kemampuan berpikir itulah yang sering kali memiliki kelebihan dalam melihat kesalahan dan kekurangan sebuah kultur masyarakat

Yang sayangnya sering kali pula, hanya diacuhkan oleh sebagian besar manusia

 

Tak ada kebenaran yang akhirnya menjadi realita

Kesalahan bisa menjadi kebenaran

Apabila kesalahan itu sudah diyakini benar oleh masyarakat sebuah peradaban

Termasuk kultur masyarakat di tempat kita berada.

Lumia 735 Advertise

Angkringan Dishes #culinary #culture #food #foodies #foodtravel #indonesia #indonesianculture #Jogja #jogjakarta #traveling #yogya #yogyakarta #yogyes

Angkringan Dishes #culinary #culture #food #foodies #foodtravel #indonesia #indonesianculture #Jogja #jogjakarta #traveling #yogya #yogyakarta #yogyes

Kelak, aku pasti akan kembali ke kota ini. Sampai jumpa kembali Yogyakarta yg kucinta. at Lapangan GSP UGM – View on Path.

Kelak, aku pasti akan kembali ke kota ini. Sampai jumpa kembali Yogyakarta yg kucinta. at Lapangan GSP UGM – View on Path.

SEJUJURNYA, SAYA BENCI JAKARTA

Enam bulan aku bekerja dan tinggal di Semarang, dan tetap menjadi lebih dekat dengan Yogyakarta. Aku bahagia dan mendapat kenangan berharga di Semarang dan mulai menyukainya walau cintaku tetap untuk Yogyakarta.
Tapi satu minggu yang lalu mengubah kehidupanku di Semarang. Aku mendapat surat perintah untuk pindah bekerja ke Jakarta.
Ya, Jakarta. Kota metropolitan yang sejak dulu tak pernah kurahapkan untuk menjadi tempat tinggalku dan tempat untuk bekerja.
Kota tempat berkumpulnya para birokrat, kapitalis multinasional, fundamentalis agama, dan kaum borjuis, yang menghimpun modal, kekuasaan dan pengaruh ke daerah-daerah lain. Menjadikan daerah lain di negeri ini hanya sebagai perpanjangan tangan bisnis atau tempat permainan mereka.
Kota dimana segala aspek kehidupan diukur dengan Rupiah. Mau tak mau, suka tak suka, semua manusia yang hidup di kota ini akan dimotivasi untuk membelanjakan hasil pekerjaan mereka untuk membeli sesuatu yang sesungguhnya tidak sangat mereka butuhkan. Harga diri seseorang tidak lagi diukur dari kemanusiaan dan kepribadian sejatinya, tapi dari merek busana yang dikenakan, kemewahan mobil yang dikendarai, rumah yang ditempat tinggali, dan gemerlapnya tempat tongkrongan yang disinggahi bersama teman-teman. Kita menikmati apa yang dibuat oleh orang-orang tidak berpunya dengan membayar harga mahal, tanpa kita sadari. Kita hidup dalam kemewahan yang dibangun dari sumber daya alam milik daerah di Tanah Jawa lain bahkan pulau lain yang ada di penjuru Nusantara ini. Dan, kita hidup dalam keteraturan berbungkus kebebasan palsu dan kesuksesan semu. Pagi berangkat bekerja dalam kemacetan, rutin mengerjakan sesuatu yang sesungguhnya bukan tujuan hidup kita, dan berusaha menahan diri dari serbuan bujuk rayu pemilik modal untuk membelanjakan uang hingga tak pernah memiliki tabungan dan masa depan yang sesuai dengan isi hati kita sendiri.
Di kota ini, tak ada lagi batas antara budaya lokal dan budaya luar. Mau tak mau, suka tak suka, kita hidup dalam arus budaya Barat dan budaya Arab, atau budaya asing lainnya yang membuat kita lupa akan budaya kita sendiri, kita hidup hanya tinggal menerima dan mengikuti arus budaya yang ada. Menjadi manusia-manusia yang hidup tanpa jati diri sendiri.
Apakah ini yang disebut kehidupan?
Sejujurnya, saya benci Jakarta.

Freedom and Independence for Indonesia.

Freedom and Independence for Indonesia.

RIVALITAS DAN PERMUSUHAN

Hidup manusia ini dipenuhi dengan impian dan cita-cita yang mengawang jauh tinggi melampaui batas langit 
Sampai-sampai banyak manusia yang lupa kalau mereka tidak bisa melawan gravitasi
Hingga akhirnya banyak yang jatuh dan terpental dengan rasa sakit yang seakan-akan nyaris membunuh mereka 
Atau bahkan benar-benar mati karena usahanya mencapai impian duniawi itu
Sebagian manusia ada yang tidak peduli dengan itu dan tetap berusaha keras 
Sebagian manusia yang lain dalam hatinya ingin mengikuti hatinya untuk berusaha mencapai impian namun dibayang-bayangi rasa takut
Sebagian manusia yang lain ada yang tidak peduli dengan cita-cita atau impian dan memilih untuk menjalani hidup dengan menerima nasib atau keberuntungan sedapatnya
Ada manusia yang berusaha mengajak manusia lain untuk menggapai impiannya atas nama kebersamaan atau persatuan dalam organisasi
Ada manusia yang soliter dalam berusaha menggapai cita-citanya
Ada yang hanya sekedar mengikuti manusia pencari impian dan hanya ingin memperoleh hasilnya saja
Tidak masalah manusia memandang bagaimana cara mereka menyikapi impian dan cita-cita
Akan tetapi masalah sesungguhnya adalah bagaimana cara mereka memperoleh cita-citanya
Menyikut, menendang, menjatuhkan, memfitnah, bahkan membunuh manusia lain menjadi halal hukumnya
Demi keberhasilan menggapai impian dan cita-cita
Karena sesungguhnya rivalitas dan permusuhan itu batasnya beda-beda tipis.

RED BULL PHOTOGRAPHY - Two Different Worlds - Shot with the Nokia Lumia 930

(Source: youtube.com)