Art / Autocar / Food / Humaniora / Indonesi / Japan / Life / Photography / Thoughts / Traveling

Freedom and Independence for Indonesia.

Freedom and Independence for Indonesia.

RIVALITAS DAN PERMUSUHAN

Hidup manusia ini dipenuhi dengan impian dan cita-cita yang mengawang jauh tinggi melampaui batas langit 
Sampai-sampai banyak manusia yang lupa kalau mereka tidak bisa melawan gravitasi
Hingga akhirnya banyak yang jatuh dan terpental dengan rasa sakit yang seakan-akan nyaris membunuh mereka 
Atau bahkan benar-benar mati karena usahanya mencapai impian duniawi itu
Sebagian manusia ada yang tidak peduli dengan itu dan tetap berusaha keras 
Sebagian manusia yang lain dalam hatinya ingin mengikuti hatinya untuk berusaha mencapai impian namun dibayang-bayangi rasa takut
Sebagian manusia yang lain ada yang tidak peduli dengan cita-cita atau impian dan memilih untuk menjalani hidup dengan menerima nasib atau keberuntungan sedapatnya
Ada manusia yang berusaha mengajak manusia lain untuk menggapai impiannya atas nama kebersamaan atau persatuan dalam organisasi
Ada manusia yang soliter dalam berusaha menggapai cita-citanya
Ada yang hanya sekedar mengikuti manusia pencari impian dan hanya ingin memperoleh hasilnya saja
Tidak masalah manusia memandang bagaimana cara mereka menyikapi impian dan cita-cita
Akan tetapi masalah sesungguhnya adalah bagaimana cara mereka memperoleh cita-citanya
Menyikut, menendang, menjatuhkan, memfitnah, bahkan membunuh manusia lain menjadi halal hukumnya
Demi keberhasilan menggapai impian dan cita-cita
Karena sesungguhnya rivalitas dan permusuhan itu batasnya beda-beda tipis.

RED BULL PHOTOGRAPHY - Two Different Worlds - Shot with the Nokia Lumia 930

(Source: youtube.com)

kumako365jp:

many chicks!!

Aku Bangga Menjadi Insan Psikologi

 

Sepuluh tahun lalu, ketika aku masih belum genap berusia delapan belas tahun dan masih seorang remaja yang tak mengenal identitas pribadi, aku memutuskan untuk memilih Fakultas Psikologi dari sekian bidang studi ilmu pengetahuan yang ada di berbagai Universitas dan Fakultas apapun.

Keputusanku memilih psikologi, seperti yang aku duga sebelumnya, banyak memunculkan ketidaksukaan dan pertanyaan dari orang-orang di sekitarku, mulai dari teman-teman hingga kedua Orangtuaku. Kata mereka, masa depan mahasiswa psikologi itu suram, sesuramnya kecilnya ruang lingkup pekerjaan yang bisa dimasuki lulusan psikologi. Apalagi dengan banyaknya teman sekolah yang saling kompak memilih fakultas-fakultas favorit seperti Ekonomi, Teknik, Hukum, atau Kedokteran. Rata-rata dari mereka memiliki alasan yang sama jika ditanya mengapa memilih fakultas-fakultas tersebut : Pilihan favorit karena menjanjikan pekerjaan yang bagus di masa depan. Pekerjaan yang bagus yang dimaksud, apalagi kalau bukan menjadi profesional atau pegawai di perusahaan-perusahaan besar, entah swasta, multinasional, atau BUMN.

Terus terang pada saat itu, aku tidak mempermasalahkan atau mendebat teman-temanku yang mau kuliah di fakultas pilihan banyak remaja dengan alasan mendapatkan pekerjaan yang baik. Tidak masalah, semua remaja berhak memilih dan menentukan cita-cita kuliahnya sendiri, masalah bagiku adalah ketika aku ditekan banyak orang untuk tidak memilih bidang studi yang sangat kucintai ini. meski begitu, tetap saja aku yang di saat itu masih remaja yang tidak tahu apa-apa tentang dunia beberapa kali tidak dapat menahan emosi karena harus beradu argumentasi bahwa keinginan dan keputusanku memilih psikologi sebagai ilmu untuk bekerja di masyarakat adalah benar, meskipun tahu melalui prosesnya tidak akan mudah. Di saat itulah keyakinanku diuji : Apakah pilihanku memang benar? Apakah aku (akan) mengambil keputusan yang salah? Hingga pada bulan-bulan terakhir menjelang ujian masuk perguruan tinggi negeri, akhirnya aku membuat keputusan secara terbuka pada Orangtuanku, bahwa aku memilih Fakultas Psikologi sebagai pilihan kedua, dan Fakultas Ekonomi sebagai pilihan pertama. Tentu saja perubahan keputusan itu disambut baik oleh Orangtuaku, aku dikomentari sudah mampu berpikir jernih dan lebih dewasa daripada waktu aku masih bersikeras memilih psikologi sebagai pilihan utamaku.

Tidak lama setelah aku mengubah keputusan menjadi keputusan yang menyenangkan Orangtuaku, aku mengikuti tes UMPTN dan aku memperoleh hasil yang diharapkan Orangtuaku pula : Aku lulus diterima di Fakultas Ekonomi di universitas negeri ternama. Proses penerimaan dan adaptasi di kampus itu berjalan normal, hingga pada pertengahan semester pertama kuliahku, aku mulai bertanya-tanya kembali : Apakah jalan yang kupilih ini memang jalan yang benar, dan jalan yang terbaik untukku? Hati nuraniku mengatakan tidak. Kenyataannya, aku hanya membohongi diriku sendiri selama memilih Ekonomi sebagai bidang studi kuliahku, dan mengorbankan keberanianku untuk tetap memilih psikologi sebagai cintaku terhadap ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Terlebih pada saat Orangtuaku mempersiapkan adik perempuanku masuk kuliah, dan mereka memberikan kebebasan pada adikku untuk memilih bidang studi kuliah, tidak terkecuali psikologi. Kedengkian dan kecemburuan tumbuh di hatiku, bahwa ternyata Orangtuaku memang memperlakukan kami berbeda dan aku tidak diberi kebebasan sebagaimana yang diberikan pada adikku. Itulah yang terpikir dalam benakku saat itu. Akibatnya, pada saat itu juga aku mulai gamang, apakah aku harus mengakhiri perkuliahan di Fakultas Ekonomi hanya satu tahun? Konflik mental dan argumentasi dengan Orangtua pun tidak dapat dihindari, tapi untuk kali ini aku tetap saja tidak dapat memenangkan argumentasi dengan mereka karena waktu perkuliahan yang dilalui sudah berlalu lebih dari dua semester, sudah terlalu banyak kuliah yang diambil dan menuju penjurusan.

Oleh karena itu, aku berusaha mencari hiburan sendiri dengan mengambil jurusan Manajemen SDM, yang memiliki konten studi mendekati psikologi, khususnya psikologi industri dan organisasi. Akan tetapi, aku tetap saja tidak dapat menikmati perkuliahan di bidang itu karena isi kuliahnya takkan pernah jauh-jauh dari seputar Ekonomi Manajemen, hanya ditambahi dengan pendekatan perspektif psikologi yang juga bisa kuperoleh dari buku-buku teks psikologi yang aku beli dengan menyisihkan tabungan sendiri. Memang pada akhirnya aku bisa menyelesaikan studiku di Fakultas Ekonomi dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif diatas tiga, namun itu kuperoleh dalam jangka waktu hampir lima tahun dan masih tergolong rata-rata, jika dibandingkan dengan teman-temanku yang mampu menyelesaikan kuliah sekitar empat-empat setengah tahun dan banyak diantara mereka yang memperoleh IPK lebih dari tiga koma lima. Toh, aku tetap mensyukuri nilai IPK akhir dan lamanya studi yang kulalui dengan kondisi tidak menikmati bidang studi yang kutekuni sendiri.

Tidak terlalu lama setelah menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi, aku ditawarkan oleh Orangtuaku untuk melanjutkan studi ke tingkat Magister (S2). Rencana itu sesungguhnya sudah disiapkan satu tahun sebelum wisuda, atau tepatnya ketika aku masih dalam proses menyelesaikan skripsi sebagai syarat kelulusan di Fakultas Ekonomi dulu. Kali ini, Orangtuaku tidak memberlakukan aturan untuk meneruskan studi di fakultas yang sama seperti di S1. Oleh karena itu, kesempatan pun tidak aku sia-siakan lagi. Aku mendaftarkan diriku di Program Magister Fakultas Psikologi di sebuah universitas negeri ternama di Yogyakarta, kemudian melalui proses pendaftaran dan ujian saringan masuk hingga lengkap. Tidak hanya itu, aku juga mengajukan pendaftaran kuliah magister di jurusan yang sama di sebuah universitas swasta di kampung halamanku sendiri. Waktu itu, aku hanya bersikap pasrah dengan hasil ujian masuk yang telah aku lalui, dan ternyata hasilnya memenuhi harapanku : Aku diterima kuliah di Yogyakarta, tentu saja kebahagiaanku bertambah karena aku juga mendapat kesempatan kuliah diluar tempat tinggalku sendiri.

Perjalanan kuliah yang kulalui selama menekuni ilmu psikologi, walaupun tidak seluruhnya berjalan mulus dan (lagi-lagi) aku lulus dalam tempo melebihi waktu yang ditargetkan (yang seharusnya bisa kulalui dua tahun menjadi dua setengah tahun), namun kurasakan lebih penuh arti dan kebahagiaan daripada sewaktu aku menjalani kuliah di Fakultas Ekonomi. Aku tidak hanya memperoleh ilmu, tapi aku juga bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai latar belakang, usia, pekerjaan, suku, agama, etnis, dan budaya yang berbeda. Walaupun kehidupan di Yogyakarta tidak se-glamor yang pernah kurasakan sewaktu berada di Bandung dan Jakarta, aku merasa bahagia dan betah di Yogyakarta seolah-olah kota ini adalah tempat tinggal dan tempat kelahiranku sendiri. Perasaan itu pula yang membuatku kini menetapkan hati untuk bertempat tinggal di Yogyakarta nanti, tak peduli dimanapun nanti aku bekerja.

Dan dua setengah tahun berlalu sejak aku memulai studi kuliah di Psikologi, akhirnya aku bisa menuntaskan impianku kuliah di Fakultas Psikologi, walaupun aku tetap tidak mendapatkan gelar dengan predikat psikolog seperti yang kuimpikan di masa SMP dulu. Aku tidak hanya mendapatkan ilmu psikologi di Yogyakarta. Lebih dari itu, aku juga bisa merasakan sendiri betapa rumit dan  indahnya usaha yang kulalui untuk memperoleh impian masa sekolah itu. keyakinan, kecintaan, loyalitas, usaha keras, kesabaran, dan kreativitas, seluruhnya kugenapkan untuk mewujudkan impianku menjadi insan psikologi hingga hari ini.           

Kini, aku sudah menjadi bagian dari alumnus Fakultas Psikologi. Aku memiliki tanggung jawab yang tidak ringan untuk menggunakan ilmu yang kuperoleh di masyarakat maupun di tempat kerja. Aku sadar bahwa Ilmu Psikologi bukan ilmu yang dipelajari untuk memperkaya kemampuan diri dan merekonstruksi kepribadian sendiri menjadi lebih baik. Lebih dari itu, psikologi yang kumiliki seharusnya kupergunakan untuk memberikan kedamaian, kebahagiaan, dan penyembuhan untuk orang-orang yang ada di sekitarku, tak peduli siapa mereka, di dalam lingkungan rumah maupun tempat aku bekerja. Ilmu Psikologi itu bukan ilmu yang eksis untuk memperkaya dan memperkuat manusia dari sisi materi maupun kekuasaan seperti ilmu yang lain. Sejatinya, psikologi mengajarkan demokrasi, harmoni, kemanusiaan, keserhadanaan, dan perdamaian. Aku sadar ini bukan tanggung jawab yang ringan untuk kuemban, tapi selama aku masih memiliki keberanian, semangat, dan tujuan hidup, aku yakin aku pasti bisa membagikan ilmu psikologi ini kepada mereka yang membutuhkannya.

Thought via Path

Life is adventure. You will across the jungle. Lion, eagle, snake, and scorpion will try to kill you until you can escape. You have been warned. – Read on Path.

taylorswift:

Did you guess right? http://taylorswift.com/ 

taylorswift:

Did you guess right? http://taylorswift.com/